Professional football coach

Milomir Seslija-Milo

Coaching newspaper's clippings-Malaysia,Bosnia and Herzegovina,Oman,Libya&Indonesia

Milo, Midas Baru Dari Sarajevo Yang Belum Sempat Buktikan Diri
Ditulis oleh wearemania.net   Jumat, 06 Januari 2012 22:56   PDFCetakE-mail

Dalam mitologi Yunani kita mengenal seorang tokoh bernama Midas. Ia adalah raja yang terkenal karena kemampuannya untuk mengubah semua yang ia sentuh menjadi emas. Kemampuannya disebut sebagai sentuhan Emas atau sentuhan Midas.

Kemampuan Midas yang sangat istimewa ini tidak serta merta membawa kebahagiaan bagi dirinya dan ia menyesalinya. Pasalnya, tidak semua benda ingin diubah menjadi emas olehnya apalagi jika itu anaknya sendiri ataupun makanan yang hendak ia telan.

Ia akhirnya meminta kembali kepada Dionysus(yang memberi anugerah sentuhan emas kepadanya) untuk menghilangkan kemampuannya dan menjadikannya seperti semula.

**

Nun jauh dari ranah Yunani saya seperti menyaksikan seorang Midas di Malang. Milomir Seslija, pelatih Arema yang berlaga di IPL berkelahiran Sarajevo ini menjadi 'Raja' baru yang dipuja Aremania.

Ia tidak hanya mengundang perhatian bagi suporter, namun juga khalayak media massa. Arema yang berada dalam titik nadir berkat konflik dualisme yang mendera beberapa bulan ini seakan hidup kembali dengan adanya Milo, panggilan kesayangan bagi Milomir Seslija. Bahkan Milo mendapat penilaian istimewa di mata pemainnya. Leonard Tupamahu, defender Arema bahkan memberikan pujian kepada Milo sebagai pelatih terbaik lewat akun twitternya, @leonardtupamahu.

Demikian pula di mata suporternya, kehadiran lebih dari 35ribu penonton dalam dua pertandingan pertama Arema di IPL salah satunya berkat image positif yang dibangun Milo atas Arema.

http://www.wearemania.net/images/berita/2011_11/2011_11_04_Milomir%20Seslija_1.JPG

Milomir Seslija (Foto : Abi)

Milo datang ke Arema berkat usulan salah satu pemain Arema yang pernah dilatih oleh Milo di salah satu kompetisi sepakbola di Asia. Usul ini ditelusuri lebih lanjut oleh Gimen, yang akhirnya melakukan riset dan menemukan bahwa Milo adalah figur yang tepat untuk menjadi pelatih Arema. Salah satu hasil risetnya tersebut mengungkapkan adanya peluang bagi Arema untuk bisa menjadi bangkit seperti halnya yang dialami Robert Albert ketika melatih Arema di musim 2009/2010.

Robert Albert ketika itu tidak hanya memberikan prestasi gemilang kepada Arema dengan hadirnya mahkota juara Liga Super Indonesia(ISL) 2009/2010 tetapi juga runner up Piala Indonesia di musim yang sama. Hanya satu musim kehadiran RA(inisial dari Robert Albert ketika di Arema) namun ia sanggup membangkitkan sisi emosional klub dan suporternya dalam hal yang positif.

Tercatat di musim 2009/2010 Arema sanggup mendatangkan jumlah penonton terbanyak di Asia Tenggara dan nomor tujuh di Asia. Selain itu T-Shirt berwarna putih dan berlogo Arema dengan dilengkapi seluruh tanda tangan pemainnya menjadi salah satu trend setter Aremania di musim lalu. Diperkirakan lebih dari 20ribu T-Shirt model ini terjual di kalangan Aremania.

Diiringi dengan prestasi yang baik(juara liga dan runner up Piala Indonesia) Arema tumbuh menjadi salah satu klub yang memiliki pertumbuhan bisnis yang sangat baik. Pendapatan klub dari tiket penonton mencapai lebih dari 14Miliar rupiah. Meski Arema hanya menarik untung dari sektor merchandise berupa hang tag senilai 2500 rupiah untuk setiap itemsnya namun pendapatan yang diraih Arema dari sektor ini diperkirakan lebih dari 1 Miliar rupiah.

Selepas Robert Albert meninggalkan Arema, laju bisnis mengalami terjun bebas. Meski Miroslav Janu mampu memberikan predikat runner up ISL 2010/2011 kepada Aremania, namun secara bisnis Arema mengalami kemerosotan dibandingkan musim sebelumnya. Salah satunya omzet penjualan merchandise mengalami penurunan tajam hingga 20-25juta rupiah setiap bulan atau 240-300juta rupiah selama setahun. Selain itu jumlah penonton yang hadir di Stadion kanjuruhan menurun hingga 30persen dibandingkan musim sebelumnya. Meski tidak dapat dipungkiri menurunnya omzet ini juga terkait faktor kinerja manajemen beserta staff marketingnya.

Apa yang terjadi dalam 2 musim terakhir Arema dapat menjadi pembelajaran bagi manajemen Arema yang dipimpin oleh Fanda Soesilo. Menilik apa yang dilakukan oleh Robert Albert bisa jadi Milo adalah Raja Midas kedua di tubuh Arema.

Fakta menunjukkan kehadiran 15ribuan penonton tatkala Arema menghadapi PSMS di laga perdana IPL dan 20ribu lebih penonton ketika melawan Persibo menjadi barometer akan cerahnya masa depan klub Arema IPL nantinya.

Menjelang digulirkannya IPL musim ini saya sempat mengalami pesimistis dengan jumlah penonton Arema IPL. Dalam hitungan kasaran saya jumlah penonton paling banter separuh dari penonton Arema di laga kandang perdana ISL musim ini(sekitar 6500an penonton dan jumlah penonton Arema ISL di laga perdananya sekitar 13500 orang lebih).

Ada beberapa barometer yang menjadi dasar pemikiran saya, yakni serangan bertubi-tubi terhadap apapun yang berbau 'IPL/LPI' di Malang, kondisi manajemen yang belum 100% siap untuk mengarungi kompetisi hingga kurang siapnya penyelenggaraan kompetisi yang dikelola PT LPIS sebagai operator liga. Belum lagi berbagai perbuatan 'bodoh' yang dilakukan oleh pengurus PSSI sehingga mengundang antipati dan kontra bagi penikmat sepakbola Indonesia.

Namun, fakta di lapangan menunjukkan hal yang sebaliknya. Arema mampu meraih kesuksesan meski didera isu miring seputar pertandingan perdana Arema di IPL. Arema harus menghadapi pertandingan pertama dengan konflik antar pengurusnya dan ketidaksiapan panitia pelaksana. Pertandingan pertama dilewatkan tanpa adanya hiasan a-board(papan iklan) di pinggir lapangan.

http://www.wearemania.net/images/berita/2011_11/2011_11_04_Milomir%20Seslija_2.JPG

Gaya Melatih Milomir Seslija

Namun, berbagai tudingan miring itu akhirnya bisa dibalas dengan sebuah kehormatan untuk Aremania. Arema sukses menunjukkan aksi heroiknya dengan mengalahkan PSMS 2-1 setelah terlebih dulu tertinggal. Demikian pula dengan permainan ciamik yang ditunjukkan oleh pemain Arema asuhan Milo dengan mengurung pertahanan PSMS sepanjang pertandingan. Dalam pertandingan tersebut PSMS dipaksa bermain dengan setengah lapangan. Masalah selisoh gol, nampaknya hanya menjadi bonus saja di pertandingan tersebut.

Di pertandingan berikutnya Milo menunjukkan kepada publik bahwa anak asuhnya sanggup menawan hati suporternya. Hanya 2 gol yang menjadi selisih bagi kemenangan Arema atas Persibo. Namun 2 gol tersebut sudah lebih dari cukup untuk memenangkan hati lebih dari 20ribu Aremania yang hadir di pertandingan itu.

Di akhir pertandingan Milo memberikan hiburan kepada ribuan Aremania dengan memainkan selebrasi yang mengundang reaksi positif bagi Aremania. Selebrasi yang dimainkan mungkin dapat menjadi aksi tertawaan karena dilakukan oleh seorang pelatih asing yang baru sekali ini menginjak tanah nusantara. Namun aksi itu menjadi buah bibir ke berbagai kalangan dan menjadi ajang promosi gratis nan positif bagi Arema.

Inilah image positif yang hendak dibangkitkan kembali oleh Milo berkat kejelian orang-orang yang telah mengusulkan dan merekomendasikan untuk dikontrak. Proses dikontraknya Milo dikabarkan tidak menemui aral kesulitan berarti. Seakan-akan ia memang sudah mendapatkan gambaran masa depan yang cocok bagi dirinya, Arema.

Milo juga mendapat respon positif dari para wartawan di berbagai media massa. Harian Radar Malang(JPNN), hingga media online seperti wearemania.net, ongisnade.net dan berbagai forum dunia maya memberikan penilaian positif atas image yang dihadirkan oleh Milo berikut hasil kinerjanya sementara ini.

Tanpa mengecilkan arti bagi peran Abdulrahman Gurning, apa yang dilakukan Milo dapat menjadi teladan bagi siapapun pelatih Arema nantinya. Pelatih bukanlah sekedar jabatan formal yang menjadi pimpinan bagi sederetan pemain Arema namun dituntut untuk memiliki peran lebih bagi klub, semisal sebagai entertain klubnya. Peran ini memang seringkali dijabat oleh para pemain, namun bukan untuk 'dimonopoli'.

Lihatlah sosok Mourinho di Real Madrid yang popularitas dan kharismanya mampu melebihi beberapa pemain inti di klub berjudul Los Galacticos tersebut. Demikian juga dengan Sir Alex Ferguson yang dipandang sebagai salah 'Master of Old Trafford'. Barangkali setelah Fergie, panggilan akrab Alex Ferguson pensiun dari Manchster United kita akan menyaksikan keberadaan patung dirinya di Old Trafford, seperti halnya yang terjadi pada kolega pendahulunya, Sir Matt Busby.

 

title

Click to add text, images, and other content